0 11 bulan

Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Iswahjudi hadir sebagai postur kekuatan pertahanan Indonesia. Dijuluki sebagai Home of Fighters dan tempat ‘lahirnya’ para penerbang pesawat tempur berkualifikasi tinggi membuat lanud ini memiliki fungsi yang begitu vital untuk mendukung fungsi pertahanan udara Indonesia.

Lanud Iswahjudi juga dikenal sebagai lanud skadron tempur, di antaranya Skadron Udara 3, Skadron Udara 14, dan Skadron Udara 15 yang mengoperasikan jet tempur F-16 asal Amerika Serikat serta T-50 Golden Eagle asal Korea Selatan.

Terletak di Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Lanud Iswahjudi dikenal dengan sebutan ‘Maospati’ di awal pembentukannya pada tahun 1939. Pangkalan udara TNI AU ini memiliki sejarah panjang. Dikutip dari buku Lanud Iswahjudi: Basis Pesawat Tempur, saat masa kependudukan Belanda, pangkalan ini dibangun sebagai upaya Belanda untuk mempersiapkan diri menghadapi Perang Pasifik.

Saat menjadi basis kekuatan militer sekutu di Jawa, sebanyak 36 unit pesawat yang terdiri dari pesawat Curtiss 75A-7 Hawk, Curtiss Wright 21B interceptor, dan Brewster 399 Buffalo menjadi kekuatan Lanud Maospati.

Selanjutnya, pasca Belanda menyerah kepada Jepang pada 8 Maret 1942, Lanud Maospati diambil alih oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun Kokusho). Selain sebagai pangkalan pesawat militer, di masa kependudukan Jepang, lanud ini bertambah fungsinya menjadi tempat penyimpanan segala jenis motor pesawat terbang buatan Jepang yang digunakan untuk kepentingan perang. Selain itu, lanud ini juga dijadikan sebagai bengkel mesin peralatan perang, terutama pesawat terbang.

Di masa kemerdekaan Republik Indonesia, lanud ini sempat diberi nama Bengkel Oedara (BKO) Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Sesuai dengan namanya, pangkalan ini hanya digunakan sebagai tempat penyimpanan mesin dan pemeliharaan pesawat. Pengelolaan BKO TKR kemudian resmi berakhir pada 5 Mei 1946 dan pangkalan udara ini diserahkan kepada Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang berdiri pada 9 April 1946.

Sejak saat itu, BKO TKR disebut sebagai Pangkalan Udara Nasional yang dikomandani oleh Opsir I Prof. Dr Abdulrachman Saleh yang juga merangkap sebagai Komandan Pangkalan Udara Bugis (Malang).

Kemudian, bertepatan dengan Hari Pahlawan ke-15 pada 10 November 1960, pemerintah Indonesia mengabadikan nama Marsma TNI Anumerta Iswahjudi dan mengganti nama Lanud Maospati menjadi Pangkalan TNI AU Iswahjudi. Hal tersebut ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara No.546 tanggal 4 November 1960.

Latih Kesiapsiagaan dan Tingkatkan Keterampilan, Lanud Iswahjudi Gelar Pelatihan Pendirian Tenda dan MCK Darurat Melatih kesiapsiagaan dan meningkatkan keterampilan personel, Lanud Iswahjudi menggelar pelatihan pendirian tenda dan pembuatan tempat Mandi, Cuci, Kakus (MCK) darurat di Kantor Dinas Teritorial Lanud Iswahjudi, Madiun. Kamis (21/5/2026). Pada kesempatan ini, Kadister Lanud Iswahjudi Kolonel Tek Ricki Amades, S.E., yang diwakili Kasitahwildirga Lanud Iswahjudi Letkol Adm M. Teguh, S.E., menjelaskan bahwa karakteristik geografis Indonesia, khususnya Jawa Timur menuntut personel TNI Angkatan Udara, khususnya Lanud Iswahjudi untuk siap sedia menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi, di mana kecepatan dan ketepatan dalam memberikan bantuan. Salah satu hal sederhana namun berdampak, menurutnya adalah keberadaan tenda dan MCK darurat menjadi hal penting dalam membantu masyarakat apabila terjadi bencana alam atau keadaan darurat lainnya. “Tenda untuk tempat tinggal darurat dan MCK sebagai fasilitas sanitasi dasar dapat digunakan untuk keperluan membersihkan diri,” jelasnya. Untuk itu, lanjutnya, selama dua hari pelatihan diharapkan seluruh peserta yang terdiri dari personel Lanud Iswahjudi, Insub, dan Pramuka Saka Dirgantara Lanud Iswahjudi dapat mengikuti dengan penuh rasa tanggung jawab memahami materi yang disampaikan oleh staf Sathanlan Lanud Iswahjudi, dan jangan ragu untuk bertanya karena materi yang disampaikan sangaterguna untuk bekal masa depan dan bermanfaat bagi banyak orang